Inilah dia jenis-jenis Pembohong 1. Pembohong Sesekali Kita semua pasti pernah melakukan kebohongan selama hidup. Pembohong
sesekali tidak biasa berbohong, hanya karena beberapa alasan mereka
melakukannya, mungkin karena ingin melindungi dirinya, temannya, orang
yang ia cintai atau seseorang yang lain. Perlu diketahui bahwa di balik
setiap kebohongan selalu ada ketakutan. Ketakutan untuk menghadapi suatu
kenyataan. Pembohong sesekali memikirkan betul-betul apa yang akan
diucapkannya sehingga tampak masuk akal. Tetapi karena mereka tidak
biasa berbohong, bahasa tubuhnya tetap memperlihatkan banyak
tanda/sinyal yang menunjukkan bahwa mereka sedang berbohong. Sehingga
tidak terlalu sulit mengidentifikasi tipe pembohong seperti ini.
Bagaimanakan cara mengetahui bahwa seseorang sedang berbohong?
1. Posisi tubuh dapat menjadi bukti yang menunjukkan
bahwa seseorang sedang berbohong, karena disadari ataupun tidak
disadari ada hubungan yang kuat antara pikiran dan ekspresi.
2. Nafas yang tiba-tiba. Dalam setiap kebohongan,
detak jantung akan meningkat dan nafas akan menjadi dangkal/cepat.
Biasanya pembohong akan mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan
perasaannya. Cara ini juga yang diterapkan oleh mesin pendeteksi
kebohongan, yaitu dengan mengukur detak jantung orang yang sedang
diinterogasi/diwawancara.
Bagi kalian yang masih berstatus pelajar apalagi perantauan muda yang pergi ke kota orang untuk mengadu nasib, apakah kalian tau apa saja yang akan kalian hadapi? apalagi bila kalian seorang mahasiswa, orang yang tentu saja sudah tidak pantas dikasihani kan?
Oleh sebab banyak penganggur di Indonesia ane jadi tergugah. tenang apa yang tertulis disini kita dapatkan dari sharing dengan lebih dari 3 orang sukses- ya atau bisa disebut kaya raya. Dan tentu saja bukan asal kaya, mereka memulai semuannya dari 0 besar.
Ok kita mulai saja. ini dia tips menjadi si sukses:
Titik ekstrim dibagi menjadi 2 yaitu, ekstrim lokal dan ekstrim mutlak. Perubahan kemonotonan di sekitar titik c pada I akan menghasilkan nilai terbesar dan terkecil pada fungsi F disekitar c dengan fungsi F yang kontinue pada selang I. Nilai terbesar dan terkecil itulah yang disebut dengan ekstrim local. Sedangkan nilai terbesar dan terkecil dari suatu fungsi pada daerah asalnya disebut ekstrim mutlak.
Definisi: Misalkan fungsi F kontinu pada selang I yang memuat titik C.
Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan. Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.
Siapa yang gak mau berprestasi? Karena saya punya temen-temen berprestasi saya mengobservasi mereka-(tangkep, buka kepalanya selidiki otaknya) ternyata mereka punya 3 hal yang mirip!
Larry Ellison: Apa yang anda cari dibangku kuliah hanya menjadi pecundang!
Itulah yang dikatakan Larry Ellison, CEO dari ORACLE, yang disampaikan pada wisuda sarjana di Universitas Yale. Lary mengutarakan bahwa pendidikan yang tinggi tidak serta merta menjamin kesuksesan seseorang. Banyak orang sukses dan tokoh-tokoh penting dunia justru dropout dari perguruan tinggi, bahkan dengan jelas Larry menunjukan kepada para mahasiswa bahwa apa yang mereka cari di perguruan tinggi hanya menjadi pecundang. Lihat Bill Gates dan Paul Allen mereka berdua dropout dari perguruan tinggi dan sekarang malah menjadi Miliader!
Pidato ini tentu mengusik pikiran kita, sebagai yang akan kuliah maupun yang sedang kuliah (biarpun ngak denger langsung). Apakah reaksi anda?
Anda Menerima? Ini realita yang sebenarnya terjadi, coba kita liat sekeliling, mayoritas lulusan perguruan tinggi yang menyandang title sarjana hanya menjadi penganggur atau dipekerjakan oleh orang yang tidak kuliah sama sekali. Indikasi ini jelas terlihat dari tingginya angka penganguran penyandang title sarjana dan rendahnya prduktifitas mereka dalam pasar kerja. Apakah memang benar kata Larry Ellison bahwa perguruan tinggi kita hanya akan mencetak pecundang-pecundang?
Anda Marah? Ini logis saja karena budaya priyayi di Indonesia. Budaya yang cendrung mengangap pendidikan sebagai bagian dari strata social dimana orang terdidik ditempatkan di barisan terdepan dari golongan masyarakat. Pasti tidak akan menerima ungkapan Larry Ellison, Orang tua akan berbicara; kami sukses, kami terhormat, kami kaya, karena apa? Karena kami bersusah payah kuliah, menahan lapar untuk beli buku, menjual sawah untuk biaya kuliah dan bla bla bla. Kalau dulu tidak kuliah nasib saya tidak akan seperti ini. Budaya yang begini yang diajarin turun temurun dari orang tua ke anak-anaknya.
Anda Tertantang? Ini menjadi sebuah pembelajaran bersama, antara realitas dan keinginan untuk mendapatkan pendidikan. Disatu sisi kita membenarkan karena kondisi pendidikan perguruan tinggi di Indonesia yang masih batuk-batuk. Tapi juga paham kalau pendidikan dapat mengantarkan kepada kesuksesan. Hal ini yang menjadi pemikiran mahasiswa untuk tidak hanya mengandalkan ilmu dari perguruan tinggi saja, tetapi mencari menggali dan menelusuri makna dibalik ilmu tersebut.
Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia menyebabkan para sarjana memiliki daya saing rendah dalam pasar kerja, banyak sarjana yang nganggur. Dengan menempuh pendidikan di perguruan tinggi awalnya kita berfikir dapat mendapatkan pekerjaan bahkan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, tapi banyak yang harus menelan pil pahit dengan menerima kenyataan yang sebaliknya.
Tau ngak tingkat pengangguran di setiap jurusan kadang mencapai angka 10%< sakit kan??? Kecuali kedokteran, >5%. Siapakah yang bertanggung jawab terhadap semua ini?? SIAPA!!!!! Apakah ini kesalahan pemerintah? Universitas? Atau justru salah mahasiswanya sendiri? Gak usah kebanyakan polemic nyalahin orang lain, mencari kambing hitam terhadap semua yang terjadi, yang penting itu SOLUSI. Tridharma Perguruan Tinggi sebenarnya sudah bisa mengatasi persoalan dunia pendidikan di Indonesia, tinggal bagaimana mengimplementasikan dalam dunia akademis. Selama ini yang dilakukan adalah perkuliahan, sedangkan dua hal penting lainnya yaitu penelitian dan pengabdian masyarakat belum optimal dilakukan. Padahal dua hal ini merupakan kunci kesuksesan untuk bergulat didunia perguruan tinggi. Mahasiswa harus paham hal itu, jadikan aktivitas ilmiah menjadi proses dari pencerahan pemikiran mahasiswa menuju kesuksesan. Dan ini telah terbukti, mereka yang mampu memainkan konsep tridharma perguruan tinggi dapat menjadi intelektual yang sukses saat menempuh pendidikan.
Ingat! Kuliah saja tidak pernah cukup! Itulah yang harus kalian pahami. Ilmu dari perguruan tinggi gak akan mengantar kita pada kesuksesan, perguruan tinggi bukan jalan menuju sukses, bukan jalan menuju jabatan, bukan juga jalan menuju pekerjaan. Perguruan tinggi adalah tempat pergulatan emosi, Pola berfikir dan kedewasaan yang akan memboyong kita kepada kesuksesan.
Sekarang berhentilah jadi si tolol yang kuliah pulang - kuliah pulang, cobalah berfikir sedikit kreatif karena kita tinggal dinegara yang. . . ya tanpa disebut juga pahamkan? Ingat ambil semua kesempatan gak usah ragu-ragu dan mikir nantinya repot atau nyusahinlah karena semua yang kita lakukan akan membentuk diri kita menjadi orang yang lebih sempurna.
By : Lete & Wiko Saputra <jeb. univ andalas padang>
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.